Menurutnya saat ini titik temuan korban berada di koordinat 04°54′ 44″S dan 119° 44′ 48″ S, saat ini sedang dievakuasi oleh Search and Rescue Unit (SRU) melalui jalur pendakian. Sementara serpihan pesawat yang nampak berdasarkan laporan seperti rangka pesawat serta kursi penumpang.
Pelaksanaan operasi dilakukan secara profesional dan terukur. Tak hanya itu, dirinya mengakui, setiap langkah diambil berdasarkan analisis risiko di lapangan.
Dirinya menceritakan, operasi berlangsung dalam kondisi medan ekstrem dan cuaca yang sangat menantang. Karena sejak pagi hari, pencarian sempat terganggu dengan hujan dengan intensitas tinggi serta jarak pandang yang terbatas.
“Jarak pandang terbatas sekitar lima meter di puncak. Ini berdampak pada pergerakan tim, termasuk sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel,” ucapnya.
Adapun skenario pencarian yakni, SRU bergerak sesuai pembagian sektor. SRU 1 melakukan penurunan ke arah barat menggunakan tali.
SRU 3 masih berada di puncak dan sebagian personel berhasil menyeberang ke titik dua. Sementara itu, SRU 4 yang sempat berada sekitar 200 meter dari titik misi tidak menemukan akses aman untuk dilalui dan setelah berkoordinasi dengan posko induk, diarahkan kembali ke posko.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 rute penerbangan Yogyakarta-Makassar dinyatakan hilang kontak, Sabtu (17/1/2026) siang.
Pesawat yang berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel ditemukan dalam kondisi serpihan di puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026).
Berikut nama kru dan penumpang pesawat ATR 42-500:
Kru:
1. Kapten Andi Dahananto,
2. Muhammad Farhan Gunawan
3. Hariadi
4. Restu Adi
5. Dwi Murdiono
6. Florencia lolit
7. Esther Aprilita
Penumpang:
1. Ferry Irrawan
2. Deden Mulyana
3. Yoga Nauval.
(Redaksi***)

Tinggalkan Balasan