Takalar – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Hasanuddin (Unhas) yang seharusnya menjadi pengalaman berharga bagi F.A., mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Unhas, harus berakhir lebih awal setelah kondisi kesehatannya menurun saat menjalankan pengabdian di Kelurahan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Kamis 23 Juli 2026

F.A. sempat mengalami nyeri dada yang diduga dipicu oleh gangguan asam lambung sehingga harus dibawa rekan-rekannya ke RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle Takalar untuk mendapatkan penanganan medis.

Saat menjalani pemeriksaan, dokter juga mengetahui bahwa F.A. tengah menjalani pengobatan TB Limfadenitis dan telah mengonsumsi obat anti-tuberkulosis selama sekitar delapan minggu. Setelah dilakukan observasi, pihak rumah sakit memperbolehkan F.A. pulang karena kondisi lambungnya telah membaik dan tidak memerlukan perawatan inap.

Menurut keluarga, Lurah Pattallassang yang datang menjenguk berharap F.A. dapat beristirahat selama beberapa hari sebelum kembali mengikuti rangkaian kegiatan KKN hingga masa pengabdian berakhir pada 18 Agustus 2026.

Namun keesokan harinya, dosen pembimbing lapangan KKN Tematik Literasi, Prof. S., menghubungi orang tua F.A. dan meminta agar putrinya sementara dibawa pulang untuk beristirahat. Menurut keluarga, Prof. S. menjelaskan bahwa F.A. membutuhkan pemulihan agar kondisi tubuhnya kembali stabil serta pola makan dapat lebih terjaga dengan pendampingan keluarga, sementara untuk tugas – tugas bisa diselesaikan lewat gmeet atau zoom dengan teman-teman satu poskonya.

Dalam percakapan melalui pesan singkat, Prof. S. juga menyampaikan bahwa F.A. tidak boleh terlalu lelah dan perlu menghindari risiko tertular penyakit seperti influenza dari teman-temannya yang dapat menyebabkan kondisi kesehatannya kembali menurun. Meski demikian, F.A. tetap diberikan kesempatan mengikuti sebagian kegiatan KKN secara daring melalui Google Meet dengan membantu penulisan berita, jurnal, maupun pembuatan video bersama rekan-rekannya.

Di sisi lain, keluarga mengaku mengetahui adanya kekhawatiran dari sebagian mahasiswa setelah mengetahui F.A. sedang menjalani pengobatan TB Limfadenitis. Kekhawatiran tersebut, menurut keluarga, muncul karena program KKN Tematik Literasi banyak berinteraksi dengan anak-anak, ditambah pemilik rumah tempat mahasiswa menginap sedang dalam kondisi hamil.

Keluarga menilai kekhawatiran tersebut diduga ikut memengaruhi situasi hingga F.A. akhirnya tidak lagi tinggal di posko KKN. Namun keluarga juga menegaskan bahwa dalam komunikasi langsung dengan orang tua maupun F.A., Prof. S. tidak menyampaikan bahwa pemulangan dilakukan karena penyakit TB, melainkan lebih menekankan pada kondisi kesehatan F.A. yang membutuhkan istirahat dan pengawasan selama masa pemulihan.

Bagi F.A., keputusan tersebut menjadi pukulan tersendiri. Ia mengaku mengikuti KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan ingin belajar dan mengabdi secara langsung kepada masyarakat hingga kegiatan berakhir.

Dalam percakapannya dengan dosen pembimbing, F.A. sempat memohon agar tetap diperbolehkan tinggal di Takalar bersama keluarganya yang berada di daerah tersebut agar masih dapat mengikuti kegiatan lapangan. Ia juga mengungkapkan kesedihannya dengan bertanya apakah penyakit yang sedang diobatinya menjadi alasan dirinya tidak dapat menyelesaikan KKN sebagaimana mahasiswa lainnya. Namun, demi menghormati arahan dosen pembimbing dan mempertimbangkan kondisi kesehatannya, F.A. akhirnya memilih kembali ke rumah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penyintas TB yang sedang menjalani pengobatan masih kerap menghadapi stigma di tengah masyarakat. Padahal, edukasi mengenai jenis TB, proses pengobatan, serta tingkat risiko penularannya perlu dipahami secara benar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun ketakutan yang berlebihan.

Keluarga F.A. menyampaikan apresiasi kepada RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle Takalar atas pelayanan medis yang diberikan, kepada Lurah Pattallassang yang telah datang menjenguk dan memberikan dukungan moral, serta kepada Prof. S. yang tetap membuka ruang bagi F.A. untuk berkontribusi dalam kegiatan KKN secara daring selama masa pemulihan.

Melalui peristiwa ini, keluarga berharap Universitas Hasanuddin dapat terus memperkuat edukasi mengenai TB kepada mahasiswa dan masyarakat serta menghadirkan kebijakan yang mengedepankan empati, pendampingan, dan komunikasi yang baik. Harapan tersebut bukan hanya untuk F.A., tetapi juga agar tidak ada lagi mahasiswa yang sedang berjuang melawan penyakit harus menghadapi beban tambahan berupa stigma sosial.

*Catatan Redaksi:* _Berita ini disusun berdasarkan keterangan keluarga, percakapan yang diperlihatkan kepada redaksi, dan komunikasi yang telah disampaikan dosen pembimbing kepada orang tua maupun F.A. Fokus pemberitaan ini adalah pentingnya empati, pendampingan terhadap mahasiswa yang sedang menjalani pengobatan, serta mengurangi stigma terhadap penyintas TB di lingkungan pendidikan. (Red)