Penulis :Aco M.Paranrangi,S.Pd,.M.Si ( Mahasiswa S3 Universitas Islam An Nur Lampung)

Di banyak ruang kerja, terutama dalam pelayanan administrasi dan publik, sering terdengar kalimat yang berpusat pada “aku”: aku paling tahu, aku paling benar, aku paling pintar. Sekilas tampak seperti kepercayaan diri, namun jika berlebihan, sikap ini berubah menjadi ego yang merusak. Bukan hanya hubungan antarpegawai yang terganggu, tetapi juga kualitas pelayanan kepada masyarakat ikut terdampak.

Ego kerja menciptakan tembok dalam tim. Individu yang merasa paling benar cenderung menolak masukan, enggan berdiskusi, dan mengambil keputusan sepihak. Padahal pelayanan publik menuntut kolaborasi, ketelitian, dan kepekaan. Ketika satu orang mendominasi dengan egonya, proses administrasi menjadi kaku, koordinasi melemah, dan pelayanan kehilangan sentuhan profesional.

Tokoh manajemen dunia, Peter Drucker, menegaskan bahwa kekuatan organisasi bukan terletak pada individu yang merasa paling hebat, melainkan pada kemampuan tim dalam bekerja sama. Ia melihat organisasi sebagai sistem kolaboratif, di mana setiap orang memiliki peran penting. Ego yang berlebihan justru menghambat efektivitas itu.

Pandangan serupa disampaikan oleh John C. Maxwell. Ia menekankan bahwa keberhasilan tim lahir dari sikap saling menghargai, bukan saling mendominasi. Dalam tim, tidak ada ruang bagi “aku paling benar”, karena setiap keputusan terbaik lahir dari pertukaran gagasan, bukan dari pemaksaan kehendak.

Sementara itu, Stephen R. Covey mengingatkan pentingnya mendengar sebelum ingin didengar. Prinsip ini sangat relevan dalam pelayanan publik. Tanpa kerendahan hati untuk mendengar, pelayanan akan kehilangan arah dan empati terhadap kebutuhan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, sikap egois dan merasa paling benar juga mendapat peringatan keras. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.”
(QS. Al-Isra: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan, termasuk merasa diri paling benar, adalah sikap yang tidak dibenarkan. Dalam konteks kerja, kesombongan bisa menjauhkan seseorang dari kebenaran itu sendiri.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa berbahayanya sifat sombong, bahkan dalam kadar yang sangat kecil. Dalam dunia kerja, kesombongan bisa merusak kepercayaan, memicu konflik, dan menghancurkan semangat kebersamaan.

Dampak nyata dari ego kerja terlihat pada pelayanan yang tidak efektif: proses menjadi lambat, kesalahan meningkat, dan masyarakat merasa tidak dilayani dengan baik. Lebih dari itu, budaya kerja yang dipenuhi ego akan menciptakan lingkungan yang tidak sehat—penuh ketegangan dan minim kolaborasi.

Karena itu, sudah saatnya menggeser paradigma dari “aku” menjadi “kita”. Pelayanan publik bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, tetapi ruang untuk bekerja sama demi kepentingan masyarakat. Profesional sejati adalah mereka yang mampu merendahkan ego, membuka diri terhadap masukan, dan mengutamakan hasil bersama.

Pada akhirnya, keberhasilan pelayanan publik tidak ditentukan oleh satu orang yang merasa paling benar, tetapi oleh tim yang saling melengkapi. Ego mungkin membuat seseorang terlihat unggul sesaat, tetapi kerendahan hatilah yang menjaga keberhasilan dalam jangka panjang.(Aco M.Paranrangi)