Kapolsek Labakkang, AKP Sofyanto, membenarkan kejadian ini. Ia mengatakan, “Benar ada dugaan keracunan siswa-siswi makanan dari program MBG di Kecamatan Labakkang.”

Insiden keracunan MBG ini menimpa siswa di dua institusi pendidikan, yakni SMA 13 Boarding School Pangkep dan SD Negeri 13 Kassiloe, pada hari Senin (8/12). Sofyanto mengungkapkan bahwa informasi mengenai sejumlah siswa yang menunjukkan gejala keracunan diterima sekitar pukul 21.00 Wita dari pihak SMA 13.

“Informasi yang kami terima bahwa ada beberapa siswa yang mengalami gejala keracunan dari pihak SMA 13. Personel kami langsung ke sana,” ucapnya.

Gejala yang dialami para siswa mencakup muntah, diare, dan sakit perut. Beberapa siswa harus segera dilarikan ke Puskesmas Labakkang untuk mendapatkan penanganan medis.

“Ada beberapa siswa yang boarding school mengalami muntah-muntah, diare dan gangguan perut, dan sudah ada siswa yang dibawa ke puskesmas terdekat,” ujarnya.

Menurut keterangan dari pihak sekolah kepada kepolisian, makanan tersebut diantar oleh SPPG 02 Labakkang ke sekolah sekitar pukul 10.30 Wita dan dibagikan serta dikonsumsi oleh siswa sekitar pukul 11.30 Wita.

“Pukul 17.00 Wita dimana sebagian siswa merasakan sakit perut, mual, diare dan muntah-muntah,” kata Sofyanto.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan, Mansur, merinci bahwa dari total 74 siswa yang terdampak, 27 orang di antaranya sempat menjalani perawatan intensif di beberapa fasilitas kesehatan. Dari 27 orang tersebut, 10 siswa sudah diperbolehkan pulang, sementara 17 siswa lainnya masih dalam perawatan inap.

“Ada 74 orang yang terdampak keracunan yang diduga dari makanan yang diberikan dari SPPG. 27 orang dirawat di Puskesmas Labakkang, Puskesmas Taraweang, STMC (Semen Tonasa Medical Center) dan RSUD Batara Siang,” kata Mansur.

Ia menambahkan perkembangan terkini pada hari itu: “Untuk hari ini per jam 14.00 Wita, 17 orang yang masih sementara dirawat, 13 orang di Puskesmas Labakkang, 2 orang di Puskesmas Tarawemag dan 2 orang di STMC,” sambungnya.

Pihak Dinas Kesehatan telah mengambil langkah untuk menyelidiki penyebab keracunan. Mansur menyebutkan bahwa sampel dari lauk yang dikonsumsi siswa, yaitu ikan woku dan capcai, telah diambil untuk diteliti di laboratorium. Hasil uji laboratorium diperkirakan akan keluar paling cepat setelah 24 jam.

“Kami sudah turun ke sekolah untuk memantau dan melihat kondisi di sana sekaligus pengambilan sampel untuk makanan yang dikonsumsi pada hari itu,” pungkasnya.

(Redaksi***)